Astaga, Jokowi Minta Asing Pimpin BUMN ?

Supaya Hindari Hutang, Jokowi Jual Aset BUMN Lewat Sekuritas

“Saya bahkan ingin ada tiga atau empat bule profesional yang memimpin perusahaan BUMN agar orang-orang kita belajar serta termotivasi dan berkompetisi dengan adanya orang-orang asing itu,” katanya pada jamuan santap siang dengan para pemimpin redaksi media massa nasional di Istana Merdeka Jakarta, Selasa, 3 Januari 2017.

Bagaimana kita memaknai ucapan seorang Presiden yang seperti itu? Marah? Sedih, prihatin, miris? Atau, jangan-jangan kita mengamini dan menerimanya sebagai sebuah kebenaran bahkan keharusan?

Pernyataan Jokowi ini sejatinya mencerminkan kualitas dirinya. Sungguh tak disangka, Indonesia punya presiden dengan mental inlander. Mental budak! Presiden yang tidak menghargai kualitas sumber daya manusia bangsa dan rakyatnya sendiri. Presiden yang memuja-muja bangsa asing, khususnya kaum bule, sebagai ras unggul dan superior.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menulis, inlander adalah sebutan ejekan bagi penduduk asli alias pribumi di Indonesia oleh orang Belanda pada masa penjajahan Belanda. Mental Inlander, berarti kondisi jiwa, sikap dan prilaku, yang selalu menganggap dari luar (barat) baik, maju, modern, pantas.

Sebaliknya, mental inlander menganggap budaya, negara, dan bangsanya selalu buruk, kolot, primitif, ketinggalan zaman, terbelakang, dan tidak pantas. Singkat kata, mental inlader adalah perasaan rendah hati sebagai bangsa Indonesia.

Oleh Edward Marthens

Istilah Inlander muncul pertamakali saat pemerintah Kolonial Belanda menerbitkan Undang-Undang yang berbau ras-segregasi pada 1854. UU ini memilah-milah masyarakat Hindia Belanda di dalam tiga kelas atau golongan. Pertama, kelas tertinggi ditempati orang-orang Barat, khususnya Belanda disebut Eropeanen. Kedua, golongan Asia Timur diduduki keturunan Cina, Arab, dan India yang banyak menjadi penduduk Hindia Belanda. Yang paling buncit, kelas paling bawah disebut golongan Inlander. Label ini disematkan untuk menyebut rakyat Indonesia asli sebagai kaum pribumi.

Sejak saat itu, Inlander adalah ungkapan yang sangat memperhinakan kaum pribumi yang dibatasi hak-haknya. Karena status inlandernya, kaum pribumi tidak punya hak menempuh pendidikan tinggi, bahkan pendidikan rendah sekali pun. Tempat-tempat eksklusif di kota Batavia terlarang bagi kaum inlander. Tidak tanggung-tanggung, di bagian pintu depan, ditulis dengan huruf mencolok; Verboden voor Honden en Inlander. Artinya, terlarang bagi anjing dan pribumi.

Gudangnya tokoh hebat

Jokowi seharusnya belajar sejarah. Bukankah lintasan perjalanan bangsa ini dijejali dengan orang-orang bekualitas super? Soekarno, Hatta, Agus Salim, Muhammad Natsir, Sjahrir, dan masih amat banyak tokoh lain, adalah contoh bagaimana Indonesia memiliki manusia-manusia unggul. Tanpa mengabaikan peran Allah SWT, tidak mungkin Indonesia bisa merdeka, tanpa eksistensi dan perjuangan para tokoh tersebut.

Atau, kalau tidak mau bicara di ranah politik dan emoh mundur dalam rentang waktu yang terlalu jauh, Jokowi juga bisa membuka file para anak bangsa yang sukses memimpin perusahaan. Di jajaran ini kita bisa dengan gampang menyebut Rizal Ramli, Ignasius Jonan, Rahmat Gobel, Sofyan Basir, Rini Sumarono, dan masih banyak lainnya.

Rizal Ramli, misalnya sebagai komisaris utama, dia sukses memoles kinerja Semen Gresik Grup dan Bank BNI. Begitu juga Ignasius Jonan, berhasil memoles kinerja dan pelayanan PT Kereta Api Indonesia (KAI) waktu menjadi Direktur Utama. Sebelum parkir KAI, Jonan pernah ditarik Rizal Ramli untuk memipin PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero), padahal, waktu itu dia sedang menikmati karirnya di jajaran pimpinan Citi Bank, bank asal Amerika yang telah lama beroperasi di Indonesia.

Masih di jajaran pimpinan BUMN, kita juga punya Sofyan Basir, Direktur Utama PLN sejak 2014. Di tangannya, PLN yang selama ini dikenal tidak efisien dan merugi, kini kinerjanya sudah jauh lebih baik. Sebelumnya, dia juga berhasil membawa BRI, bank yang ‘ndeso’ menjadi bank BUMN peraih laba terbesar selama beberapa tahun berturut-turut. BRI juga berhasil menyalip Bank Mandiri, bank hasil gabungan empat bank pelat merah dengan asset terbesar di Indonesia.

Kalau kita tengok di jajaran perusahaan swasta, Indonesia juga punya banyak jagoan. Beberapa di antaranya adalah Rahmat Gobel. Mantan Menteri Perdagangan di era Jokowi ini terbilang sukses memajukan perusahaan National Gobel Group yang kini bernama Panasonic Gobel Group.

Kalau mau ditambahkan, kita bisa memasukkan Rini M Soemarno. Perempuan yang kini menjadi Menteri BUMN di Kabinet Kerja-nya Jokowi ini, pernah menjadi Direktur Keuangan Astra International, sebuah perusahaan konglomerasi milik William Soerjadjaja, dengan karyawan sekitar 100.000. Karirnya di Astra mencapai puncak saat menjadi direktur utama.

Beberapa nama tersebut hanyalah sedikit contoh dari begitu banyak warga negara Indonesia (WNI) asli yang piawai memimpin perusahaan, baik BUMN maupun swasta. Darah yang mengalir di tubuh mereka 100% Indonesia, tidak ada setetes pun asing, apalagi bule yang dibangga-banggakan Jokowi.

Oya, khusus Sofyan Basir ada sedikit catatan tambahan. Latar belakang pendidikan formal ternyata full lokal. Dia meraih gelar Diploma dari STAK Trisakti, Jakarta (1980). Bahkan gelar sarjana ekonominya diperoleh dari STIE Ganesha, Jakarta (2010), sebuah lembaga pendidikan yang, maaf, relatif kurang terdengar. Sofyan menyabet gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Trisakti, Jakarta (2012). Kendati berpendidikan formal lokal, toh Sofyan berhasil membuktikan kualitasnya sebagai pimpinan perusahaan yang andal.

Dengan deretan fakta yang amat benderang seperti ini, sungguh sulit diterima akal Jokowi bisa seminder itu. Bagaimana mungkin Presiden Republik Indonesia, sebuah Negara besar yang berdaulat, memiliki Presiden bermental budak seperti itu?

Bukan bangsa kuli

Apakah mungkin ini terjadi karena statusnya yang cuma sebagai petugas partai, seperti yang dikatakan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, yang membuatnya seperti itu? Sebagai petugas partai, dia hanya menjalankan tugas dan misi yang diembannya dari partai. Termasuk di dalamnya, dia harus menyeragamkan sikap mentalnya dengan sikap mental pimpinan partai.

Kita mungkin belum lupa, ketika Megawati mengatakan, “Manusia Indonesia itu betul-betul ada keturunan budak karena harus disuruh, dipecut dahulu baru bekerja.” Pernyataan itu disampaikannya saat memberikan Presidential Lecture di Jakarta, (28/5). Pernyataan sebagaiman dimuat berbagai media online tersebut disampaikan dalam rangka ulang tahun Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) ke-50.

Coba bandingkan dengan ucapan Soekarno, bapak biologis Mega. “Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari dua sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.”

Simak baik-baik pernyataan sang Proklamator itu. Resapi kata demi katanya. Sungguh amat dahsyat. Tidakkah anda merinding membaca kalimat-kalimat tersebut? Lalu, apa yang anda rasakan saat mendengar Megawati dan Jokowi membuat pernyataan seperti itu?

Satu hal yang pasti, pernyataan Presiden tadi menyiratkan bahwa yang bersangkutan punya mental budak. Boro-boro mengajak dan membangkitkan percaya diri seluruh komponen bangsa, ironisnya Jokowi malah bangga menyandang status sebagai bangsa kuli. Secara eksplisit dia membanggakan dan mengidolakan bangsa-bangsa lain, khususnya kaum bule. Memangnya dia pikir kalau bule pasti hebat, pandai, intelek? Bukankah dengan tindakannya itu dia telah merendahkan martabat, sejarah, budaya, tradisi, bahasa, dan bangsanya sendiri?

Entah, ada atau tidak hubungannya hal ini dengan revolusi mental yang digembar-gemborkannya saat kampanye Capres. Hebatnya lagi, di era Jokowi, revolusi mental telah menjadi program nasional yang baik secara langsung maupun tidak, dijalankan kementerian dan lembaga dengan anggaran belasan bahkan mungkin ratusan miliar rupiah.

Pak Jokowi, ingat ya, kita bukan banga tempe. Kita bukan bangsa kuli. Amat banyak anak bangsa kita yang andal dan terbukti hebat. Indonesia bangsa yang hebat, pak. Ingat itu! (*). (kfr

)

Jakarta, 5 Januari 2016

Edward Marthens, pekerja sosial, tinggal di Jakarta

Berikan Komentarmu

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!